Selasa, 26 September 2023

Diagnosa Keperawatan Ckd Sdki

Diagnosa Keperawatan pada Chronic Kidney Disease (CKD) menurut Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI)

Chronic Kidney Disease (CKD) atau penyakit ginjal kronik adalah suatu kondisi medis yang ditandai oleh penurunan fungsi ginjal secara progresif dan berkelanjutan. Diagnosa keperawatan yang tepat sangat penting dalam pengelolaan pasien CKD, sebagai panduan bagi perawat dalam merencanakan dan melaksanakan intervensi yang efektif dalam merawat pasien dengan CKD. Salah satu referensi yang digunakan di Indonesia adalah Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI), yang memberikan panduan bagi perawat dalam mendiagnosis dan merawat pasien dengan CKD.

Ada beberapa diagnosa keperawatan yang umum digunakan dalam merawat pasien CKD menurut SDKI, antara lain:

1. Gangguan pola eliminasi urin: Diagnosa ini dapat diberikan ketika terjadi gangguan dalam pola eliminasi urin pasien CKD. Misalnya, penurunan volume urine, poliuria (produksi urine yang berlebihan), nokturia (sering buang air kecil di malam hari), atau anuria (tidak ada produksi urine sama sekali). Hal ini bisa disebabkan oleh penurunan fungsi ginjal yang mengakibatkan penumpukan zat-zat beracun dalam tubuh dan gangguan regulasi cairan.

2. Kelebihan volume cairan: Diagnosa ini dapat diberikan ketika terjadi penumpukan cairan yang berlebihan dalam tubuh pasien CKD. Penurunan fungsi ginjal dapat mengakibatkan retensi cairan dan timbulnya edema (pembengkakan) pada berbagai bagian tubuh, seperti kaki, tangan, wajah, atau paru-paru. Kelebihan volume cairan dapat mengganggu kenyamanan pasien, serta menyebabkan gangguan pernapasan dan peningkatan risiko terjadinya komplikasi seperti gagal jantung.

3. Gangguan pola nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh: Diagnosa ini dapat diberikan ketika terjadi gangguan dalam pola nutrisi pasien CKD. Penurunan fungsi ginjal dapat mengakibatkan peningkatan kebutuhan nutrisi dan gangguan penyerapan nutrisi dalam tubuh. Pasien CKD sering mengalami hilang nafsu makan, mual, muntah, atau kesulitan dalam mengonsumsi makanan yang mengandung nutrisi penting, seperti protein, kalori, vitamin, dan mineral. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan berat badan, kelelahan, dan penurunan daya tahan tubuh.

4. Risiko tinggi terhadap infeksi: Diagnosa ini dapat diberikan ketika pasien CKD memiliki risiko tinggi terhadap infeksi. Penurunan fungsi ginjal dapat mengakibatkan penurunan kekebalan tubuh, sehingga pasien CKD lebih rentan terhadap infeksi, seperti infeksi saluran kemih, infeksi kulit, atau infeksi sistem